Terjemahan

Saturday, August 25, 2012

'Hindari Rawan Pangan, Jangan Lawan Siklus Air'

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Rawan pangan tak akan terjadi, kata pakar lingkungan Prof Emil salim, jika hidup selaras dengan alam. Salah satunya, adalah tidak melawan siklus air.

"Jangan halangi aliran sungai, jangan gunduli hutan. Biarkan air menjalani siklusnya dengan sempurna," kata Ketua Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi dan Lingkungan Hidup ini.

Bila siklus air dilawan, dan terlalu banyak campur tangan manusia, katanya, yang akan dipanen umat manusia adalah bencana. Banjir, kekeringan, dan krisis pangan adalah yang utama, kata tokoh kelahiran Lahat, Sumatera Selatan, 8 Juni 1930, ini.

“Saat itu, air tidak akan mencukupi untuk kebutuhan manusia. Masalahnya, hutan yang menampung hujan ditebang untuk beragam keperluan. Danau yang elok  menjadi tempat pembuangan sampah,” ujarnya.

Emil menjelaskan Indonesia terletak di sepanjang garis khatulistiwa, yang diapit oleh dua samudera (Pacific dan Hindia) dan dua benua (Asia dan Australia). “Kondisi alamiah ini membuat negara kita jadi surga hutan tropis dan berlautan tropis unik dengan keanekaragaman sumber alam hayati dan biodiversitas terkaya di dunia,” tambah Emil.

Alam tropis Indonesia menikmati curah hujan tinggi. Namun persebaran hujan tidak merata dengan curah hujan tertinggi di Pulau Jawa dan terendah di Nusa Tenggara.

Kondisi alam tanah air yang beraneka raga ini, lanjut Emil, mempengaruhi kemampuan produksi penduduk kita. Kombinasi penduduk Jawa yang hidup di pulau bertanah vulkanis subur dan curah hujan tinggi ini menghasilkan pola produksi berbasis tanah dengan air.

“Inilah mengapa pertanian tumbuh subur di Pulau Jawa, sedangkan pulau Nusa Tenggara  memiliki padang rumput yang yang luas, sehingga mendukung perkembangan peternakan,”  jelas Emil Salim.


Petani memeriksa sawah yang kering akibat kekurangan pengairan


Menurut dia, tanah penuh zat-zat kimia alami yang mendukung tumbuh kembang tanaman pangan. Bercampur dengan air, zat-zat ini akan diserap tumbuhan. Ketika siklus air terganggu, maka kimiawi tanah juga terganggu dan suplai pangan pada gilirannya akan terganggu pula.

Kondisi Alam Menurun
Mantan menteri berbagai bidang di era Orde Baru sejak tahun 1971 ini mengakui, kondisi alam saat ini sudah jauh menurun dibanding beberapa dasawarsa lalu. Karenanya, kata dia, terobosan teknologi perlu dikembangkan untuk menjamin ketersediaan pangan.

Misalnya saja, mengembangkan pertanian padi yang membutuhkan hanya sedikit air. "Para ilmuwan kita di LIPI sudah dan terus mengembangkannya," kata dia.

Ia juga mendorong dikembangkannya penerapan teknologi produksi pangan lain: pertanian hidroponik, bertani di atas atap, bertani algae di lautan, dan sistem stek tanaman darat di hutan bakau. "Teknologi yang dikembangkan di Jepang (bertani di atas laut) tak menutup kemungkinan untuk dikembangkan juga di sini," tambahnya.

Menurut Emil, seluruh komponen bangsa bertanggung jawab terhadap kelestarian alam dan ketersediaan pangan. "Kunci dari semuanya adalah ilmu pengetahuan dan teknologi. Kuasai, dan gunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan umat manusia," kata Anggota Dewan pembina Yayasan Kehati ini.
Redaktur: Ajeng Ritzki Pitakasari
Reporter: Siwi Tri Puji


sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/12/04/29/m38rwg-hindari-rawan-pangan-jangan-lawan-siklus-air

Pencapaian Sektor Perkebunan Naik 50 Persen

Buruh tani mengumpulkan karung berisi kopi hasil panen di perkebunan milik PTPN IX, Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. (Aditya Pradana Putra/Republika)


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pencapaian indikator makro pembangunan perkebunan pada semester 1 mengalami kenaikan. Data Kementerian Pertanian melaporkan, ekspor komoditas perkebunan nasional mencapai USD16,98 miliar atau 50 persen dari capaian sepanjang 2011 yang sebesar 32,16 miliar dolar AS.

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian Gamal Nasir, menjelaskan perolehan tertinggi berasal dari hasil ekspor komoditas perkebunan sebanyak 12,28 juta ton selama semester 1 tahun ini. "Komoditas perkebunan penyumbang terbesar ekspor nasional yakni masih kelapa sawit atau CPO, kemudian karet dan kakao," katanya, kemarin.

Gamal memaparkan, pada semester 1 ini capaian ekspor kelapa sawit (CPO) mencapai 9,78 ton dengan nilai 9,95 juta dolar AS. Kakao (Biji Kering) menyumbang 655 juta dolar AS dengan ekspor 237,2 ton. Sedangkan karet menyumbang 5,165 juta dolar AS dengan kuota ekspor 1,45 ton.

Pada 2011, ketiga komoditas perkebunan andalan tersebut masing-masing memberikan kontribusi terhadap devisa negara sebanyak 17,26 miliar dolar AS untuk CPO dengan volume sebesar 16,43 juta ton, karet memberikan sumbangan devisa senilai 11,13 miliar dolar AS dengan volume mencapai 2,38 juta ton karet kering, dan ekspor kakao mencapai 353.500 ton biji kering senilai 1,17 miliar dolar AS.

"Selain ketiganya, penyumbang komoditas ekspor lainnya adalah kelapa, kopi (Biji kering), jambu mete, cengkeh, teh, tembakau, lada dan lainnya," kata Gamal.

Gamal menambahkan, data yang dilaporkan ini masih terbilang angka sementera. "Pencapaian di semester 1 ini belum seutuhnya. Namun, sudah mendekati tetap dan dapat dijadikan acuan untuk lebih meningkatkan produksi," katanya.
Redaktur: Dewi Mardiani
Reporter: MG05


sumber : http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/12/08/10/m8iv7v-pencapaian-sektor-perkebunan-naik-50-persen




Friday, August 24, 2012

MUSIM TANAM: Petani Diimbau Waspadai Hama Tikus





SUKOHARJO-Menghadapi musim tanam (MT) 3 ini para petani di Sukoharjo diimbau mewaspadai serangan hama tikus pada lahan pertanian mereka. Karena saat musim panen seperti sekarang ini tikus cenderung berdiam di persembunyian mereka.
“Sekarang ini petani di daerah banyak yang panen, saat seperti ini hama tikus banyak yang menggali lubang untuk persembunyian dan berkembang biak. Karena padi para petani sudah banyak yang dipanen,” papar Kasi Perlindungan Tanaman dan Holtikultura Dinas Pertanian (Dispertan) Sukoharjo, Narto ketika ditemui Solopos.com saat mendampingi Kepala Dispertan, Giyarti di ruang kerjanya, Rabu (8/8/2012).
Menurut dia MT 3 yang berbarengan dengan musim kemarau kemungkinan hanya hama tikus yang harus diwaspadai. Sebab hama lainnya seperti wereng diperkirakan tak begitu mengkhawatirkan. Sebab, ungkap Giyarti, musim kering seperti sekarang ini biasanya akan menghambat laju perkembangbiakan hama wereng. Kendati demikian pihaknya tetap mengimbau para petani tetap waspada.
Karena fakta di lapangan menunjukkan hama wereng kadang tetap ada di sejumlah tempat kendati bertepatan dengan musim kemarau seperti sekarang ini. Guna mengantisipasi serangan hama saat MT 3, pihaknya mengaku telah membantu para petani untuk mengendalikan perkembangbiakan hama.
Di antaranya pihaknya memberi kelompok tani di Sukoharjo dengan 724 buah hands sprayer, 234 buah power sprayer, umpan, untuk memberantas tikus, jaring dan sebagainya. Barang-barang bantuan itu selama ini dinilai cukup efektif mengendalikan populasi tikus di areal pertandian di Sukoharjo.
Lebih lanjut Narto mengatakan pada MT 2 ini serangan hama tikus relatif tak begitu luas. Karena di Sukoharjo hanya wilayah Bendosari yang relatif terasa adanya serangan hama tikus. “Serangan hama tikus yang paling terasa memang di Bendosari. Tetapi secara keseluruhan serangan hama tikus di Sukoharjo tergolong masih wajar,” terang Narto.

sumber : http://www.solopos.com/2012/sukoharjo/musim-tanam-petani-diimbau-wapadai-hama-tikus-317432